24
Okt
07

Apa Jadinya?

Kemarin, minggu 21 oktober, pas jalan- jalan ke mandiangin sekalian silaturahmilah. Kebetulan mampir ke rumah tuti, salah satu pemilik warung yang biasanya kami jadikan tempat nongkrong dan kumpul- kumpul apabila kami ke tahura mandiangin. Aku cukup akrab dengannya dan keluarganya. Tapi waktu aku mampir pagi itu kebetulan tutinya ngga ada, cuman bapak sama ibunya. Tapi tidak lama aku datang, ternyata mereka juga mau pergi. Katanya sih mau mengantarkan mamanya tuti, buat gantiin tuti yang sudah semalaman jaga warung di tahura.

Namun tidak terlalu lama menunggu, akhirnya abah dan tuti datang, mungkin karena jarak dari rumah tuti ke tahura tidak jauh, makanya cepat datangnya.  Si tuti langsung masuk kerumahnya, sedangkan aku dan abah karena sudah lama tidak ketemu dan ngobrol. Maka kami berbincang bincang. Biasanya sih yang kami obrolkan kebanyakan ya.. masalah yang ada di mandiangin. Entah itu soal tambang yang kini sudah masuk kedalam kawasan tahura atau pengkaplingan tanah tahura yang mengancam keberlangsungan tahuara.

Cukup lama kami ngobrol dan saling berbagi cerita, tanpa harus terkonsef dan ceritanya juga kesana kemari. Tapi ada beberapa hal yang menarik menurutku untuk aku simak. Yaitu soal telah terancamnya tahura mandiangin saat ini. Karena tanah yang termasuk dalam kawasan tahura tersebut sudah di bagi- bagi oleh warga dan kepala desa. Menurut informasinya sih akan di tanami pohon karet. Namun yang menjadi ke khawatiran aku adalah, kalau nantinya lahan yang sudah di miliki secara pribadi oleh masyarakat tersebut, rawan untuk di jual. Apabila ada penawaran dari perusahaan tambang yang saat ini semakin hari semakin dekat dengan tahura mandiangin.

Apa jadinya kalau mandiangin di jual? padahal mandianginlah satu- satunya wadah pendidikan bagi para pegiat alam bebas. Dimana mandiangin merupakan tempat yang strategis dan cukup lengkap di jadikan lab gunung hutan dan panjat tebing bahkan caving dan kegiatan lainnya kecuali orad.

Melihat hal ini aku jadi bingung berbuat apa. Apakah aku hanya diam tanpa melakukan apapun. Sedangkan di sana pertambangan takkan berhenti melakukan aktivitas yang menciptakan kerusakan. Apa jadinya mandianginku, apa jadinya alamku.

Tapi satu hal saat ini yang bisa aku lakukan adalah, menulis. Menulis mungkin akan lebih mudah di lakukan. Dan aku berharap ada yang peduli dengan coretan ini, semoga saja.


0 Tanggapan ke “Apa Jadinya?”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan




Poster

selamatkan-hutan.jpg

ORPALA KADIPA

logo.jpg

Arsip

Komentar Terakhir

Dunk2 di Buku Tamu
pman di Buku Tamu
gebrochenes Herz di Buku Tamu
palagos community di ORPALA KADIPA
susan di Buku Tamu
santo di Buku Tamu
006kadipa_cute di ORPALA KADIPA
ORPALA KADIPA di Tentang Penulis
BAREMPALA di Tentang Penulis
BAREMPALA di Buku Tamu

Tanggalan

Oktober 2007
R K J S M S S
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31